foto292.jpg  Marah adalah salah satu naluri (watak) Syetan. Watak ini menyebabkan manusia melakukan banyak keburukan dan mengalami banyak musibah. Untuk itu syari’at Islam memberikan banyak cara untuk melepaskan diri dari penyakit ini dan membatasi dampak negatifnya. Sehubungan dengan marah ini manusia terbagi menjadi tiga keadaan :

Pertama : Lalai. Artinya ia tidak pernah marah sama sekali. Ia sangat lemah dan tidak memiliki emosi sama sekali. Ia tidak marah atas terjadinya pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah swt, tidak cemburu ketika aurat istrinya dan anak perempuannya yang sudah baligh dilihat orang lain. Ini adalah sikap yang hina dan tercela

Kedua : Berlebihan. ARtinya ia berlebih-lebihan dalam hal marah sehingga mengalhkan akal sehat dan agamanya dan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan. Sikap ini juga tercela

Ketiga : Sedang. Artinya ia mau membela dirinya, agamanya, kehormatannya dan hartanya serta cemburu terhadap larangan-larangan Allah swt. Ini adalah sikap yang terpuji.

Secara ilmiah, marah adalah salah satu bentuk perasaan kuat yang berpengaruh terhadap jantung orang yang marah seperti pengaruh yang ditimbulkan oleh lari. Perasaan marah dapat meningkatkan jumlah detak jantung per menit. Hal ini tentu akan membuat jantung menjadi kelelahan.

Mengatasi Rasa Marah

Marah dapat diatasi dengan beberapa cara. Apabila seseorang mengikuti cara-cara tersebut secara istiqomah, insyaallah dia tidak akan melampiaskan kemarahannya dengan cara tercela. Antara lain sebagai berikut :

a. Membaca Ta’Awudz (memohon perlindungan kepada Allah swt dari gangguan syetan)

Sulaiman bin Shard menyatakan bahwa ada dua orang laki-laki yang bertengkar di sisi Nabi saw. Salah satu dari mereka memerah matanya dan otot-ototnya mengembang, lalu rasulullah saw bersabda : Sesengguhnya aku mengetahui satu kalimat yang apabila diucapkan seseorang niscaya apa yang dia rasakan akan sirna, yaitu : A’udzu billahi minasy syaithanir rajim (aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk) (H.R Bukhari)

b. Diam

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw bersabda : “Jika salah satu dari kamu marah, hendaklah ia diam” (H.R Ahmad)

c. Merubah Posisi

Rasulullah saw bersabda : “Apabila salah seorang di antara kamu marah dalam posisi berdiri, hendaklah ia duduk, jika kemarahannya hilang (alhamdulillah), dan jika tidak hendaklah ia berbaring” (H.R. Bukhari)

d. Berwudhu

Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya marah itu berasal dari syetan, sesungguhnya syetan itu diciptakan dari api, dan api itu hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka apabila salah satu dari kamu marah, hendaklah ia berwudhu” (H.R Abu Daud)

Wallahu ‘alam bish shawab.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s