Foto(511)  “Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah ra ia bertutur bahwa Rasulullah saw bersabda:”Barangsiapa yang membuat-buat hal-hal baru dalam perkara (agama) kita ini yang bukan bagian darinya maka ia ditolak (H.R. Bukhari dan Muslim)”

Sementara dalam riwyat Muslim lainnya :”Barangsiapa yang melakukan suatu amalan, di mana amalan itu bukan merupakan perintahku maka ia tertolak.”

 URGENSI HADITS

Hadits ini merupakan salah satu dasar Islam. Jika hadits tentang niat meruapakan parameter batiniyah dari setiap perbuatan, maka hadits ini adalah parameter lahiriyah dari setiap amal manusia. semua perbuatan yang tidak didasari dengan perintah Allah dan Rasul-Nya adalah tertolak. Demikian juga mereka yang membuat satu tambahan dalam agama, namun tambahan tersebut tidak memiliki dasar baik dalam al-Quran maupun hadits, maka tambahan tersebut sama sekali bukan bagian dari agama, dan dengan sendirinya tertolak.

Imam Nawawi berkata :”Hadits ini harus dihafal dan dijadikan dalil untuk membatalkan dan melenyapkan segala kemunkaran.” Sementara Ibnu Hajar al-Haitami berucap:”Hadits ini merupakan salah satu dasar Islam dan scara tekstual memiliki manfaat yang sangat luas, karena ia merupakan landasan global dan komprehensif dari semua dalil, yang darinya sebuah hukum syar’i bisa disimpulkan.”

FIQHUL HADITS

1. Islam adalah ittiba’ (mengikuti), bukan ibtida’ (membuat hal baru)

Melalui hadits ini Rasulullah saw menjaga kemurnian Islam dari tangan orang-orang yang melampaui batas. Hadits ini sendiri merupakan sabda Rasulullah yang singkat dan padat, yang mengacu kepada berbagai nash al-Quran yang menyatakan bahwa keselamatan seseorang hanya akan didapat dengan mengikuti petunjuk Rasulullah saw, tanpa menambah atau mengurangi, sebagaimana dalam firman Allah : “Katakanlah: Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian….(Q.S. Ali Imran :31). juga dalam firman-Nya : “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya…(QS. al-An’am:153).

2. Berbagai perbuatan yang tertolak

Hadits ini merupakan dasar yang jelas bahwa semua perbuatan yang tidak didasari oleh perintah syar’i adalah tertolak. Hadits ini juga menunjukan bahwa semua perbuatan, baik yang berhubungan dengan perintah maupun larangan terikat dengan hukum syara’, karenanya sungguh sangat sesat perbuatan yang keluar dari koridor yang telah ditentukan syara’, seolah-olah perbuatanlah yang menghukumi syara’ dan bukan syara’ yang menghukumi perbuatan. Karena itu setiap muslim wajib menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut (yang ada di luar koridor syara’) adalah batil dan tertolak. Perbuatan-perbuatan yang berada di luar koridor syara’ ini terbagi dua, yaitu dalam ibadah dan mu’amalah

  a. Dalam Ibadah

Jika perbuatan ibadah yang dilakukan seseorang keluar dari hukum syara’ maka perbuatan tersebut tertolak, dan ini masuk dalam firman Allah swt : “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (QS. Asy-Syura:21).

Contoh dari perbuatan ini misalnya mendekatkan diri kepada Allah swt dengan mendengarkan nyanyian, dengan menari atau dengan melihat wanita, dan berbagai perbutan lainnya yang tidak berdasarkan syari’at. Mereka mengklaim bahwa mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah melalui kesesatan yang mereka ciptakan. padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak jauh berbeda dengan kaum Arab Jahiliyah yang menciptakan satu bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah, padahal Dia tidak menurunkannya. Kadang orang juga menyangka bahwa jika dengan melakukan ibadah bisa mendekatkan diri kepada Allah, maka pendekatan tersebut juga bisa dilakukan dengan perbuatan yang lain. Contohnya adalah orang yang bernadzar pada masa Rasulullah saw untuk berdiri di bawah sengatan terik matahari dengan tidak duduk, tidak berteduh dan ia juga berpuasa. Kemudian Rasulullah saw menyuruh orang tersebut untuk duduk dan berteduh sambil terus menyempurnakan puasanya.

b. Dalam Mu’amalah

Sebagaimana dalam ibadah, ujika tidak ada dasar syar’inya, maka perilaku mu’amalah yang dilakukan seseorang batal dan tertolak. Hal ini didasari dengan peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw di mana ada seseorang yang bertanya kepada beliau seraya menginginkan agar hukuman zina diganti dengan denda, maka Rasulullah menolaknya.

3. Perbuatan yang diterima

Banyak amal dan perkara yang sifatnya baru namun tidak bertentangan dengan syari’at, bahkan sesuai atau cenderung mendukung dasar-dasar syara’, maka perkara-perkara tersebut tidak tertolak namun justru diterima. Para sahabat banyak mencontohkan hal ini dan para ulama pun sepakat bahwa amalan tersebut bisa diterima. Contoh usaha pengumpulan al-Quran dalam satu mushaf yang trejadi di masa Abu Bakar, penulisan/penyusunan ilmu nahwu, tafsir, sanad hadits dan berbagai ilmu lainnya, baik yang berupa teoritis-yang dijadikan rujukan untuk memutuskan ketentuan syari’at yang fundamental, maupun ilmu yang bersifat empiris-yang bisa memberikan pelayanan bagi kehidupan manusia, menghantarkan mereka untuk meraih kekuatan dan kemamkmuran bumi, dan mendorong terwujudnya pelaksanaan hukum Allah di muka bumi.

4. Bid’ah yang sesat dan bid’ah yang baik

Dari beberapa uraian di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa perkara-perkara yang sifatnya baru dan bertentangan dengan syara’, maka perkara tersebut tergolong bid’ah yang sesat. Namun perkara yang sifatnya baru dan tidak bertentangan dengan syari’at, bahkan sesuai dan mendukung syari’at, maka perkara tersebut baim dan bisa diterima, yang sebagian dari perkara itu ada yang sunnah, ada pula yang sifatnya fardhu kifayah. Karena itulah Imam Syafi’i pernah mengatakan:“Segala sesuatu yang sengaja dibuat dan menyalahi al-Quran, sunnah, ijma’, atau atsar, maka perkara tersebut adalah bid’ah yang sesat. sedang kebaikan yang sengaja diciptakan dan tidak menyalahi sedikitpun al-Quran, sunnah, ijma’ atau atsar, maka hal itu adalah bid’ah yang baik.”. wallahu ‘alam bish shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s