Banyak guru terjebak dalam perilaku menghukum dan menemukan jalan buntu untuk keluar dari perilaku tersebut. Seolah perilaku menghukum sudah menjadi karakter dan habith guru serta satu-satunya jalan paling efektif untuk membuat siswa belajar tenang dan tak membuat masalah lagi.

Banyak faktor yang membuat guru merasa kesulitan untuk melepaskan diri dari jeratan perilaku menghukum.  Faktor pemicu ini bersifat internal dan eksternal. Kondisi dalam guru seperti genetika, kognitif, dan karakter pribadi menjadi pemicu internal, sedangkan sistem sekolah, keadaan sosial budaya, dan kebijakan sekolah merupakan sumber yang datang dari luar dan memengaruhi perilaku menghukum guru. Berikut lebih detail dijabarkan beberapa faktor internal dan eksternal pemicu guru memberikan hukuman pada siswa

1. Warisan generasi sebelumnya

Perilaku menghukum ini seperti sudah terstruktur dan mendarah daging sehingga ada anggapan bahwa kalau guru tidak menghukum berarti guru itu tidak tegas. Pengaruh warisan masa lalu ini tentu sangat berdampak sitemik, karena tidak jarang seorang guru baru yang mencoba mempertahankan idealisme “mendidik tanpa menghukum” justru mendapat isolasi dari guru lain.

2. Tidak tertancapnya tujuan pengembangan siswa

Guru yang memilki tujuan “lebih” untuk siswanya, akan memiliki motivasi yang “lebih” juga dalam mendidik siswa, termasuk mencegah dirinya dari menghukum siswa dengan cara-cara yang mungkin cenderung membuat siswa “sakit”.

3. Keterbatasan guru pada ilmu psikologi perkembangan anak

Guru yang memiliki pengetahuan psikologi perkembangan siswa tentu akan berfikir sekian kali untuk memberikan perlakuan negatif, karena ilmu itu berbanding lurus dengan perilaku

4. Minimnya kreativitas pendekatan guru

Guru yang kreatif akan memiliki beragam cara untuk membuat siswanya belajar dengan baik tanpa harus cepat-cepat memberikan hukuman, di samping itu, guru juga bisa mnegembangkan improvisasi teknik mengajarnya sehingga siswa bisa lebih belajar dengan tertib

5. Sistem Sekolah

Sekolah yang hanya menerapkan prinsip “kejar setoran” sehingga memuat sebanyak-banyaknya siswa tanpa memperhatikan rasionya dengan jumlah guru yang ada, hanya akan menghasilkan suasana sekolah atau kelas yang gaduh. Hal ini bisa ‘Memaksa” guru yang harus mengasuh sekian banyak siswa menggunakan pendekatan yang dianggap paling mudah yaitu menghukum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s