Wahai sahabat guru, ternyata orang-orang yang pernah dicap gagal di sekolah bisa menjadi tokoh termasyhur di dunia. Winston Churchill – pemimpin dan orator terbesar abad 20- mendapat nilai buruk di sekolah, dia juga gagap kalau berbicara. Albert Einstein-ilmuwan terbesar pada zamannya- gagal dalam pelajaran matematika pada awal SMA dan suka melamun. Thomas Alva Edison dipukul oleh gurunya yang menganggap dia suka bingung dan terlalu sering bertanya. Beethoven diremehkan oeh gurunya karena dia tidak bisa mengalikan dan membagi. Emile Zola-sastrawan besar- mendapat nilai nol dalam ujian akhir sastra. Woodrow Wilson-Presiden Amerika-belum bisa membaca sampai usia sebelas tahun. Silvestre Stalon-aktor ternama- sering dipukul oleh ayahnya dan diprediksi kariernya hanya sebagai tukang reparasi lift. toh akhirnya mereka bisa menjadi tokoh-tokoh ternama di bidangnya masin-masing. ini membuktikan pendapat Dr. Kazuo Murakami yang mengatakan bahwa setiap orang punya gen-gen positif yang 90-95% diantaranya tertidur. cocoknya stimulasi dengan gaya belajar masing-masing orang akan membangunkan gen-gen yang masih tertidur.

Ketika berbicara tentang “bakat”, kita perlu menjelaskan kriterianya. Menurut Dr. Donald Treffinger-seorang spesialis bidang bakat- bahwa “bakat mengacu pada prestasi kreatif sesorang dalam rentang waktu yang terus-menerus (mungkin bertahun-tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun) dalam bidang yang berpengaruh besar pada orang itu”.

Secara tradisional, siswa-siswi “berbakat” diidentifikasi sebagai orang-orang yang mencapai kriteria khusus, sering bergantung pada penilaian yang sangat teliti dan tepat serta tes IQ, yang kemudian dimasukkan ke program bagi siswa berbakat ataupun kelas unggulan.

Berbagai studi tentang remaja berbakat telah mengungkapkan bahwa gaya belajar mereka sangat berbeda dengan siswa berperingkat rata-rata, atau bahkan siswa yang berprestasi tinggi.  Kombinasi preferensi berikut ini membedakan antara pembelajar berbakat dan populasi siswa lainnya :

1. Integrasi otak kanan/kiri : bisa sangat analitis atau holistis, tetapi bisa juga memadukan keduanya dengan sangat baik.

2. Kemampuan multi-indrawi : belajar dengan mudah melalui beberapa indra tetapi punya preferensi taktil/kinestetik

3. Preferensi awal pagi atau malam : bekerja lebih baik pada waktu-waktu tersebut

4. Suara : mereka yang analitis lebih senang dengan lingkungan yang sepi, tetapi bila ia dominan otak kanannya, akan senang apabila musik menjadi latarnya

5. Pencahayaan redup/terang : bergantung pada dominasi otak mereka

6. Wilayah kerja : bergantung pada dominasi otak mereka, tetapi menunjukkan kecenderungan lingkungan kerja formal

7. Sosial : lebih suka bekerja sendiri, hanya menerima bekerja sama dengan teman sebaya

8. Otoritas : Tidak menerimanya, membuat aturan mereka sendiri, tidak suka diawasi

9. Motivasi tinggi : termotivasi dari dalam, haus ilmu pengetahuan, sering belajar demi kegiatan belajar itu sendiri

10. Ketekunan sangat tinggi : tidak pernah menyerah, bisa jadi keras kepala dalam mengejar tujuan belajarnya

11. Tidak suka kompromi : Tidak suka dengan peraturan; tidak keberatan diberi tahu apa yang harus dikerjakan, tetapi bukan CARAnya; selalu ingin mengerjakan dengan cara mereka sendiri

12. Tanggung jawab : biasanya hanya tertarik pada proyek-proyek mereka sendiri, bisa mneunjukkan tanggung jawab sosial yang rendah

13. Tidak memerlukan struktur : selalu tahu cara menyelesaikan tugas-tugas belajarnya, tidak suka campur tangan guru atau orang tua.

Mereka sering merasa dikucilkan atau disalahpahami; berlawanan dengan siswa-siswi “rata-rata”, sangat intuitif, sering menuruti perasaan dalam membuat keputusan ketika mereka mengikuti kriteria pribadi dan mempertimbangkan nilai-nilai dan hubungan pertemanan.

Bagi kita sebagai guru, daftar gaya preferensi di atas bisa menjadi salah satu acuan untuk melihat siapa siswa kita yang benar-benar “berbakat” untuk kemudian mendukung dan mengarahkan mereka, karena sering kali populasi siswa yang seprti ini dikeluarkan dari sekolah karena sekolah konvensional tidak mendukung gaya belajar mereka.

Berbekal pengetahuan gaya belajar sisa, banyak kegiatan dan layanan berbeda yang semestinya ditawarkan kepada siswa-siswi seperti ini, bukan hanya sebuah program tunggal yang sudah tetap dengan memperhatika hal-hal berikut ini :

* instruksi dasar yang bersifat individu

* pengayaan yang tepat

* akselerasi yang efektif

* kemandirian dan pengarahan diri sendiri

* pertumbuhan pribadi dan pengembangan sosial

* perspektif karier dengan orientasi masa depan.

Sekali lagi, pengethuan yang mendalam tentang gaya belajar mereka dapat membntu memahami dan mendukung mereka dengan lebih baik.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s