Setiap orang yang hidup di dunia ini tentunya ingin senantiasa berbuat baik kepada sesama makhluk Allah swt dan mengumpulkan pundi pahala demi persiapan menghadapi pertemuan dengan Allah swt serta dikenang oleh orang lain dalam hal kebaikan, bahkan ketika mereka telah meninggal dunia. Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya :”Apabila seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali 3, yaitu : 1. sedekah jariyah, 2. Ilmu yang bermanfa’at dan 3. Anak soleh ayng senantiasa mendo’akan orang tuanya”.

Apabila kita tadaburi hadits di atas poin per poin, maka kita akan melihat kira-kira di mana peluang kita sebagai guru untuk mengumpulkan poin bagi persiapan perbekalan kita. Ada tiga poin amal yang pahalanya tidak akan putus walaupun kita sudah meninggal dunia. yang pertama Sodakoh Jariyah. Salah satu contoh sodakoh jariyah adalah sebagian materi yang kita sodakohkan ke masjid, mushola, atau fasilitas umum lainnya yang biasa dipergunakan oleh masyarakat untuk kebaikan. Inilah peluang kita untuk mengumpulkan pundi pahala bagi persiapan akhirat. Namun rasanya kalau kita hanya mengandalkan sodakoh jariyah sepertinya bisa kita hitung berapa kali kita melakukannya dalam sehari, seminggu, sebulan atau bahkan satu tahun. Diakui atau tidak kita menyedekahkan harta kita di jalan hanya pada saat-saat tertentu saja, ketika shalat jum’at misalnya. Biasanya kita mengisi kotak amal yang diedarkan kehadapan jama’ah walaupun ketika mengisinya kita memilih uang kita yang paling kecil.

Peluang yang kedua Ilmu yang Bermanfa’at. Peluang yang kedua ini lebih berat dari yang pertama, karena untuk mendapatkan investasi tiada henti dari ilmu yang bermanfa’at berarti ada dua syarat yang harus kita penuhi. pertama kita harus mempunyai ilmu, yang kedua ilmu tersebut harus kita ajarkan kepada orang lain untuk diambil manfa’atnya. Namun sebagai seorang guru, justru ini adalah peluang yang sangat besar bagi kita. Dilihat dari segi keilmuan, tentunya seorang guru pasti mempunyai ilmu dan mau atau tidak mau salah satu syarat menjadi guru adalah mempunyai ilmu, baik ilmu pengetahuan murni maupun ilmu pedagogik. Dari segi intensitasnya pun sebagian banyak waktu guru -terutama guru SIT- dipergunakan untuk berinteraksi dan mendidik siswa-siswi mereka di sekolah. Oleh karena itu, maka kita sebagai guru jangan sampai menyia-nyiakan peluang ini untuk sebanyak-banyaknya mengumpulkan pahala untuk investasi kita di alam yang akan kita hadapi setelah alam dunia ini.

Peluang yang ketiga Anak Soleh yang Senantiasa Mendo’akan Orang Tuanya . Agaknya peluang yang ketiga ini hampir semua orang memperolehnya, karena setiap orang tua memiliki anak. Maka sebagai orang tua yang telah diamanahi anak oleh Allah swt., tidak patut bagi kita untuk menyia-nyiakan mereka, karena justru mereka adalah investasi tiada henti bagi kita ketika kita bisa menjadikan mereka anak-anak soleh yang senantiasa mendo’akan kita sebagai orang tua.

Untuk mempunyai putra-putri yang soleh tentunya membutuhkan usaha kita untuk mewujudkannya, salah satunya dengan mendidik mereka atau menitipkan mereka di lembaga pendidikan yang kita anggap bisa membentuk anak kita menjadi soleh-solehah.

Dr. Nasih Ulwan-dalam kitab beliau At-Tarbiyah fil Islam- menjelaskan setidaknya ada 4 hal yang harus kita terapkan dalam mendidik anak-anak.

1. Al-‘Adah (Kebiasaan)

Tentunya yang harus kita tanamkan terhadap anak-anak kita adalah kebiasaan yang baik agar bisa disimpan oleh otak anak dalam long term memori mereka

2. Al-Qudwah (Teladan)

Anak-anak bukanlah pendengar yang baik akan tetapi mereka peniru yang hebat. oelh karena itu bila kita sebagai orang tua menginginkan anak kita menjadi anak yang soleh, rajin ibadah, pintar, taat kepada orang tua dan kebaikan-kebaikan yang lain, maka tugas pertama kita adalah memberikan keteladana kepada mereka

3. Al-‘Uqubah (Hukuman)

Islam mengakui dan membolehkan seorang pendidik untuk memberikan hukuman kepada anak didiknya, tentunya dengan rambu-rambu (yang Insyaallah pada tulisan mendatang akan kita bahas) yang tidak menyakiti anak didik secara fisik maupun mental

4. Al-Ajru (Hadiah)

Islam juga membenarkan dan menganjurkan kepada pendidik untuk memberikan hadiah kepada anak didiknya, yang tentunya juga dengan rambu-rambu yang tidak membuat anak menyalah artikan pemberian hadiah tersebut. (Hal ini juga Insyaallah kita bahas di tulisan mendatang).

Demikianlah sekilas tuntunan Islam bagi kita untuk berinvestasi tiada henti, baik ketika kita masih di dunia maupun ketika kita sudah beralih ke alam setelahnya, karena kita tidak ingin ketika kita sudah tidak berada di dunia ini lagi hanya tiga hal yang diingat oleh generasi sesudah kita yaitu : nama, tanggal lahir dan tanggal wafat.

tetap semangat guru dan orang tua Indonesia…

One response »

  1. Yudha Garda mengatakan:

    Krenzzzzz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s