Dalam proses belajar mengajar di sekolah,  hampir setiap hari para guru mengeluh tentang  siswa-siswi mereka. Ada yang mengeluh berkaitan dengan akademik siswa, ada yang berkaitan dengan  akhlak siswa, ada yang berkaitan dengan minat dan bakat siswa, dll. Biasanya yang namanya keluhan sering berkaitan dengan hal-hal yang negatif. Keluhan yang berkaitan dengan akademik, guru sering mengeluhkan bahwa para siswa mereka sangat kurang dalam masalah akademik, nilai mereka anjlok, pekerjaan rumahnya tidak dikerjakan, bacaan al-Qurannya yang belum tuntas, dll. Berkaitan dengan akhlak, rata-rata guru mengeluhkan tentang siswa yang sering berkelahi, siswa yang tidak mau menuruti “kemauan” guru, siswa yang berakhlak tidak baik dan lain sebagainya label-label yang disematkan guru terhadap mereka. Berkaitan dengan minat dan bakat biasanya para guru mengeluhkan bahwa para siswa rendah dalam minat dan bakat, siswa tidak mau ketika mereka “diarahkan” minat dan bakat mereka oleh para guru dll.

Dari keluhan-keluhan di atas, muncullah statemen dari para guru bahwa siswa-siswi mereka “nakal” . yang menyebabkan para guru dengan senang hati mengatakan bahwa siswa A perlu diberikan hukuman, siswa B perlu dipanggil oleh wali kelasnya, siswa C perlu dipanggil orang tuanya dan lain sebagainya yang seolah bahwa kesalahan semuanya berada pada siswa-siswi mereka.

Sebagai seorang guru, ketika ada suatu masalah, kita sering kali menempatkan diri kita pada posisi pihak yang benar dan siswa pada pihak yang salah. Ketika kita menemukan siswa yang berperilaku yang dianggap tidak baik oleh masyarakat-baik masyarakat sekolah maupun masyarakat umum- dengan cepat kita menjatuhkan vonis bahwa anak tersebut nakal tanpa mau berupaya untuk mencari latar belakang mengapa siswa tersebut berbuat seperti itu atau solusi apa yang tepat untuk membantu siswa tersebut keluar dari masalahnya.

Siswa-apalagi di tingkat SD- adalah anak-anak yang masih belum memahami mana yang benar dan mana yang salah, mana yang patut dicontoh mana yang tidak, mana yang terpuji dan mana yang tercela. Mereka berbuat dan berperilaku hanya mengikuti keinginan mereka tanpa mencerna terlebih dahulu apakah perbuatan mereka itu layak dilakukan atau tidak.

Guru sebagi orang dewasa yang pernah merasakan masa kanak-kanak, harusnya bisa memahami psikologi anak. apalagi salah satu syarat menjadi guru adalah harus menguasai ilmu tentang psikologi, mulai dari psikologi umum, psikologi perkembangan, psikologi pendidikan sampai psikologi orang dewasa sehingga ketika menghadapi sebuah masalah tidak hanya bersandar pada “kaca mata kuda” yang membuat semua perilaku siswa yang tidak patut digeneralisir sebagai sebuah kenakalan siswa.

Ketika siswa berbuat “sesuatu yang tidak diinginkan guru”, hendaknya guru melihat itu sebagai sebuah peluang untuk melihat potensi apa yang dimiliki oleh siswa untuk kemudian mengarahkannya kepada hal-hal yang positif. Karena ternyata berdasarkan penelitian terhadap orang-orang yang sukses, mereka punya catatan “hitam” selama mereka berada dalam lingkungan sekolah tapi sukses ketika mereka sudah menemukan tempat yang tepat untuk mengembangkan potensi mereka.

Mudah-mudahan sebagai guru, kita bisa mengambil pelajaran dari salah satu produk susu yang menyatakan kalimat “nakal” sebagai “banyak akal” yang membutuhkan kejelian kita sebagai guru untuk mengarahkannya ke hal-hal yang positif. tetap semangat guru-guru Indonesia….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s