Sebab-Sebab Timbulnya Problematika Rumah Tangga

IMG_20130918_151048   Dalam kehidupan berumah tangga, pasangan suami istri tentu akan menghadapi yang namanya problematika, baik berkaitan dengan  suami-istri, anak, tetangga, mertua, dll. banyak di antara kita yang mencoba menyelesaikan problematika itu dengan mencari solusi bersama, tapi tidak sedikit pula yang malah saling menyalahkan satu dengan yang lain.

Dalam menyelesaikan problematika rumah tangga, selain setiap pasangan suami istri hendaknya mencaari solusi agar bisa mengatasi masalah tersebut, juga harus memahami sebab-sebabnya agar tidak terulang di kemudian hari.

Berikut ini beberapa sebab timbulnya problematika rumah tangga

1. Meremehkan perbuatan dosa dan maksiat

Perbuatan dosa dan maksiat dapat melenyapkan ni’mat, merusak hati dan menghancurkan nilai-nilai. seorang ulama salaf mengatakan : “Sesungguhnya aku pernah berbuat ma’siat kepada Allah, lalu aku melihat efeknya pada perilaku istriku dan kendaraanku”

Ibnu ‘Abbas juga pernah berkata : “Sesungguhnya perbuatan dosa itu akan menghitamkan wajah (menghilangkan keceriaan), menggelapkan hati, menyempitkan kubur, melemahkan badan, menutup pintu rezeki dan melahirkan kebencian makhluk”

2. Mengabaikan hak dan kewajiban

Kehidupan rumah tangga terikat dengan hak dan kewajiban yang harus dijaga dan dihormati pasangan suami istri. mengetahui hak dan kewajiban itu merupakan langkah awal dalam upaya membangun keluarga bahagia dan tidak menghormati hak dan kewajiban itu menyebabkan timbulnya pertengkaran dan keretakan

3. Intervensi Kerabat dan tetangga

4. Membesar-besarkan kekurangan pasangan

Rasulullah saw bersabda : “Janganlah seorang laki-laki beriman membenci membenci isterinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai salah satu perangainya, dia pasti menyukai perangainya yang lain.” (H.R Muslim)

5. Berprasangka buruk terhadap pasangan

Seringkali suami atau istri berprasangka buruk terhadap pasangannya tanpa alasan yang jelas, hal ini akan menyebabkan hilangnya kepercayaan antarsuami-istri. Padahal keluarga yang tentram harus dilandasi dengan saling memberikan kepercayaan antar suami istri kepadapasangannya.

Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” (Q.S Al-Hujurat:12)

6. Minimnya ilmu pengetahuan

Minimnya pengetahuan akan solusi-solusi yang disarankan oleh agama dlam mengatasi konflik-konflik kecil yang terjadi dalam keluarga, menyebabkan ketika ada masalah sekecil apapun, yang ada di benak pasangan suami-istri hanyalah perceraian. Ini keliru, karena perceraian adalah solusi terakhir setelah begitu banyak solusi lainnya tidak bisa menyelesaikan masalah

7. Terlalu mengikuti perasaan

Perasaan seseorang seringkali dipengaruhi oleh suasana hatinya. Seseorang yang hanya mengandalkan perasaan dalam menghadapi masalah, akan mengalami kebuntuan dalam mengatasinya dan seringkali terbawa emosi diri sendiri

8. Kurangnya pemahaman terhadap tabi’at dan sifat pasangan

Setiap manusia mempunyai tabi’at dan sifat bawaan masing-masing yang tidak bisa dirubah serta merta oleh siapapun. pasangan suami-istri yang tidak mampu memahami tabi’at pasangannya akan sering mengalami pertengkaran

9. Membuka rahasia keluarga kepada orang lain.

Wallahu a’lam bish shawab

MARAH

foto292.jpg  Marah adalah salah satu naluri (watak) Syetan. Watak ini menyebabkan manusia melakukan banyak keburukan dan mengalami banyak musibah. Untuk itu syari’at Islam memberikan banyak cara untuk melepaskan diri dari penyakit ini dan membatasi dampak negatifnya. Sehubungan dengan marah ini manusia terbagi menjadi tiga keadaan :

Pertama : Lalai. Artinya ia tidak pernah marah sama sekali. Ia sangat lemah dan tidak memiliki emosi sama sekali. Ia tidak marah atas terjadinya pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah swt, tidak cemburu ketika aurat istrinya dan anak perempuannya yang sudah baligh dilihat orang lain. Ini adalah sikap yang hina dan tercela

Kedua : Berlebihan. ARtinya ia berlebih-lebihan dalam hal marah sehingga mengalhkan akal sehat dan agamanya dan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan. Sikap ini juga tercela

Ketiga : Sedang. Artinya ia mau membela dirinya, agamanya, kehormatannya dan hartanya serta cemburu terhadap larangan-larangan Allah swt. Ini adalah sikap yang terpuji.

Secara ilmiah, marah adalah salah satu bentuk perasaan kuat yang berpengaruh terhadap jantung orang yang marah seperti pengaruh yang ditimbulkan oleh lari. Perasaan marah dapat meningkatkan jumlah detak jantung per menit. Hal ini tentu akan membuat jantung menjadi kelelahan.

Mengatasi Rasa Marah

Marah dapat diatasi dengan beberapa cara. Apabila seseorang mengikuti cara-cara tersebut secara istiqomah, insyaallah dia tidak akan melampiaskan kemarahannya dengan cara tercela. Antara lain sebagai berikut :

a. Membaca Ta’Awudz (memohon perlindungan kepada Allah swt dari gangguan syetan)

Sulaiman bin Shard menyatakan bahwa ada dua orang laki-laki yang bertengkar di sisi Nabi saw. Salah satu dari mereka memerah matanya dan otot-ototnya mengembang, lalu rasulullah saw bersabda : Sesengguhnya aku mengetahui satu kalimat yang apabila diucapkan seseorang niscaya apa yang dia rasakan akan sirna, yaitu : A’udzu billahi minasy syaithanir rajim (aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk) (H.R Bukhari)

b. Diam

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw bersabda : “Jika salah satu dari kamu marah, hendaklah ia diam” (H.R Ahmad)

c. Merubah Posisi

Rasulullah saw bersabda : “Apabila salah seorang di antara kamu marah dalam posisi berdiri, hendaklah ia duduk, jika kemarahannya hilang (alhamdulillah), dan jika tidak hendaklah ia berbaring” (H.R. Bukhari)

d. Berwudhu

Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya marah itu berasal dari syetan, sesungguhnya syetan itu diciptakan dari api, dan api itu hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka apabila salah satu dari kamu marah, hendaklah ia berwudhu” (H.R Abu Daud)

Wallahu ‘alam bish shawab.

 

LARANGAN BERBUAT BID’AH

Foto(511)  “Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah ra ia bertutur bahwa Rasulullah saw bersabda:”Barangsiapa yang membuat-buat hal-hal baru dalam perkara (agama) kita ini yang bukan bagian darinya maka ia ditolak (H.R. Bukhari dan Muslim)”

Sementara dalam riwyat Muslim lainnya :”Barangsiapa yang melakukan suatu amalan, di mana amalan itu bukan merupakan perintahku maka ia tertolak.”

 URGENSI HADITS

Hadits ini merupakan salah satu dasar Islam. Jika hadits tentang niat meruapakan parameter batiniyah dari setiap perbuatan, maka hadits ini adalah parameter lahiriyah dari setiap amal manusia. semua perbuatan yang tidak didasari dengan perintah Allah dan Rasul-Nya adalah tertolak. Demikian juga mereka yang membuat satu tambahan dalam agama, namun tambahan tersebut tidak memiliki dasar baik dalam al-Quran maupun hadits, maka tambahan tersebut sama sekali bukan bagian dari agama, dan dengan sendirinya tertolak.

Imam Nawawi berkata :”Hadits ini harus dihafal dan dijadikan dalil untuk membatalkan dan melenyapkan segala kemunkaran.” Sementara Ibnu Hajar al-Haitami berucap:”Hadits ini merupakan salah satu dasar Islam dan scara tekstual memiliki manfaat yang sangat luas, karena ia merupakan landasan global dan komprehensif dari semua dalil, yang darinya sebuah hukum syar’i bisa disimpulkan.”

FIQHUL HADITS

1. Islam adalah ittiba’ (mengikuti), bukan ibtida’ (membuat hal baru)

Melalui hadits ini Rasulullah saw menjaga kemurnian Islam dari tangan orang-orang yang melampaui batas. Hadits ini sendiri merupakan sabda Rasulullah yang singkat dan padat, yang mengacu kepada berbagai nash al-Quran yang menyatakan bahwa keselamatan seseorang hanya akan didapat dengan mengikuti petunjuk Rasulullah saw, tanpa menambah atau mengurangi, sebagaimana dalam firman Allah : “Katakanlah: Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian….(Q.S. Ali Imran :31). juga dalam firman-Nya : “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya…(QS. al-An’am:153).

2. Berbagai perbuatan yang tertolak

Hadits ini merupakan dasar yang jelas bahwa semua perbuatan yang tidak didasari oleh perintah syar’i adalah tertolak. Hadits ini juga menunjukan bahwa semua perbuatan, baik yang berhubungan dengan perintah maupun larangan terikat dengan hukum syara’, karenanya sungguh sangat sesat perbuatan yang keluar dari koridor yang telah ditentukan syara’, seolah-olah perbuatanlah yang menghukumi syara’ dan bukan syara’ yang menghukumi perbuatan. Karena itu setiap muslim wajib menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut (yang ada di luar koridor syara’) adalah batil dan tertolak. Perbuatan-perbuatan yang berada di luar koridor syara’ ini terbagi dua, yaitu dalam ibadah dan mu’amalah

  a. Dalam Ibadah

Jika perbuatan ibadah yang dilakukan seseorang keluar dari hukum syara’ maka perbuatan tersebut tertolak, dan ini masuk dalam firman Allah swt : “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (QS. Asy-Syura:21).

Contoh dari perbuatan ini misalnya mendekatkan diri kepada Allah swt dengan mendengarkan nyanyian, dengan menari atau dengan melihat wanita, dan berbagai perbutan lainnya yang tidak berdasarkan syari’at. Mereka mengklaim bahwa mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah melalui kesesatan yang mereka ciptakan. padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak jauh berbeda dengan kaum Arab Jahiliyah yang menciptakan satu bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah, padahal Dia tidak menurunkannya. Kadang orang juga menyangka bahwa jika dengan melakukan ibadah bisa mendekatkan diri kepada Allah, maka pendekatan tersebut juga bisa dilakukan dengan perbuatan yang lain. Contohnya adalah orang yang bernadzar pada masa Rasulullah saw untuk berdiri di bawah sengatan terik matahari dengan tidak duduk, tidak berteduh dan ia juga berpuasa. Kemudian Rasulullah saw menyuruh orang tersebut untuk duduk dan berteduh sambil terus menyempurnakan puasanya.

b. Dalam Mu’amalah

Sebagaimana dalam ibadah, ujika tidak ada dasar syar’inya, maka perilaku mu’amalah yang dilakukan seseorang batal dan tertolak. Hal ini didasari dengan peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw di mana ada seseorang yang bertanya kepada beliau seraya menginginkan agar hukuman zina diganti dengan denda, maka Rasulullah menolaknya.

3. Perbuatan yang diterima

Banyak amal dan perkara yang sifatnya baru namun tidak bertentangan dengan syari’at, bahkan sesuai atau cenderung mendukung dasar-dasar syara’, maka perkara-perkara tersebut tidak tertolak namun justru diterima. Para sahabat banyak mencontohkan hal ini dan para ulama pun sepakat bahwa amalan tersebut bisa diterima. Contoh usaha pengumpulan al-Quran dalam satu mushaf yang trejadi di masa Abu Bakar, penulisan/penyusunan ilmu nahwu, tafsir, sanad hadits dan berbagai ilmu lainnya, baik yang berupa teoritis-yang dijadikan rujukan untuk memutuskan ketentuan syari’at yang fundamental, maupun ilmu yang bersifat empiris-yang bisa memberikan pelayanan bagi kehidupan manusia, menghantarkan mereka untuk meraih kekuatan dan kemamkmuran bumi, dan mendorong terwujudnya pelaksanaan hukum Allah di muka bumi.

4. Bid’ah yang sesat dan bid’ah yang baik

Dari beberapa uraian di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa perkara-perkara yang sifatnya baru dan bertentangan dengan syara’, maka perkara tersebut tergolong bid’ah yang sesat. Namun perkara yang sifatnya baru dan tidak bertentangan dengan syari’at, bahkan sesuai dan mendukung syari’at, maka perkara tersebut baim dan bisa diterima, yang sebagian dari perkara itu ada yang sunnah, ada pula yang sifatnya fardhu kifayah. Karena itulah Imam Syafi’i pernah mengatakan:“Segala sesuatu yang sengaja dibuat dan menyalahi al-Quran, sunnah, ijma’, atau atsar, maka perkara tersebut adalah bid’ah yang sesat. sedang kebaikan yang sengaja diciptakan dan tidak menyalahi sedikitpun al-Quran, sunnah, ijma’ atau atsar, maka hal itu adalah bid’ah yang baik.”. wallahu ‘alam bish shawab.

Beberapa hal yang berkaitan dengan Kuburan

beberapa Sunnah yang berkaitan dengan kubur

1. Ketika memasukan mayat ke dalam kubur, disunnahkan menutupi bagian atasnya dengan kain atau yang lainnya kalau mayat itu perempuan.

Dari AHli Kufah, “Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib telah datang kepada mereka sewaktu mereka sedang menguburkan mayat, dan telah dibentangkan kain di atas kuburnya, lalu Ali mengambil kain di atas kubur seraya berkata, “Ini (tutup) hanya dilakukan untuk mayat perempuan.” (Riwayat Baihaqi)

2. Disunnahkan untuk meninggikan kuburan kira-kira sejengkal dari tanah biasa agar diketahui

Sesungguhnya Nabi saw telah meninggikan kuburan putra beliau, Ibrahim, kira-kira sejengkal (Riwayat Baihaqi)

3. Kuburan lebih baik didatarkan daripada dimunjungkan

Dari ABu Al-Hayyaj, dari Ali. Ia berkata “Aku utus engkau sebagaimana Rasulullah saw telah mengutusku. Jangnlah engkau biarkan berhala, tetapi hendaklah engkau robohkan, dan kuburan yang dimunjungkan hendaklah engkau datarkan.” (Riwayat Muslim)

4. Menandai kuburan dengan batu atau yang lainnya di sebelah kepalanya

dari Mutlib bin Abdullah ia berkata” Tatkala Utsman bin Maz’un wafat, jenazahnya dibawa keluar, allu dikuburkan. nabi saw menyuruh seorang laki-laki mengambil batu, tetapi laki-laki itu tidak kuat membawanya, lalu Rasulullah saw bangkit mendekati batu itu dan menyingsingkan kedua lengan bajunya, kemudian batu itu dibawa dan diletakkan di sebelah kepalanya sambil bersabda, “Aku memberi tanda kubur saudaraku dan aku akan menguburkan di sini siapa yang meninggal di antara ahliku.” (Riwayat Abu Dawud)

5. Menaruh Kerikil (batu-batu kecil) di atas kuburan

     Dari Ja’far bin Muhammad melalui bapaknya, “Sesungguhnya Nabi saw menaruh batu kecil (kerikil) di atas kuburan putra beliau, Ibrahim (Riwayat Syafi’i)

6. Meletakkan pelepah yang basah di atas kuburan.

Keterangannya yaitu hadits dari Ibnu Abbas yang menerangkan bahwa Nabi saw pernah mengerjakan demikian

7. Menyiram kuburan dengan air

dari Ja’far bin Muhammad, melalui bapaknya “Sesungguhnya Nabi saw telah menyiram kuburan anaknya, Ibrahim” (Riwayat Syafi’i)

8. Sestelah mayat dikuburkan, orang yang mengantarkannya disunnahkan berhenti sebentar untuk mendo’akannya (memintakan ampunan dan minta supaya ia diberikan keteguhan dalam menjawab pertanyaan malaikat)

Dari Utsman, “Nabi saw apabila selesai emnguburkan mayat, belaiu berdiri lalu bersabda:”Mintakanlah ampun untuk saudaramu dan mintakanlah supaya ia diberi keteguhan, karena sekarang ia sedang ditanya.” (riyata Abu dawud dan Hakim)

 

Larangan yang bersangkutan dengan Kuburan

1. Menembok kuburan

2. Duduk di atas kuburan

3. membuat rumah di atas kuburan

Dari jabir “rasulullah saw telah melarang menembok kuburan, duduk di atasnya, dan membuat rumah di atasnya (Riwayat Ahmad dan Muslim)

4. Membuat tulisan di atasnya

Rasulullah saw telah melarang membuat rumah di atas kuburan dan membuat tulisan di atasnya (Riwayat Nasai)

5. Membuat kuburan menjadi masjid

Dari Abu Hurairah “Sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda “Mudah-mudahan Allah menghancurkan Yahudi dan nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka menjadi masjid” (Riwayat Bukhari-Muslim). Wallahu ‘alam bish shawab. 9Sumber Fiqh Islam Karya Sulaiman Rasyid)

MENGAPA GURU MENGHUKUM SISWA?

Banyak guru terjebak dalam perilaku menghukum dan menemukan jalan buntu untuk keluar dari perilaku tersebut. Seolah perilaku menghukum sudah menjadi karakter dan habith guru serta satu-satunya jalan paling efektif untuk membuat siswa belajar tenang dan tak membuat masalah lagi.

Banyak faktor yang membuat guru merasa kesulitan untuk melepaskan diri dari jeratan perilaku menghukum.  Faktor pemicu ini bersifat internal dan eksternal. Kondisi dalam guru seperti genetika, kognitif, dan karakter pribadi menjadi pemicu internal, sedangkan sistem sekolah, keadaan sosial budaya, dan kebijakan sekolah merupakan sumber yang datang dari luar dan memengaruhi perilaku menghukum guru. Berikut lebih detail dijabarkan beberapa faktor internal dan eksternal pemicu guru memberikan hukuman pada siswa

1. Warisan generasi sebelumnya

Perilaku menghukum ini seperti sudah terstruktur dan mendarah daging sehingga ada anggapan bahwa kalau guru tidak menghukum berarti guru itu tidak tegas. Pengaruh warisan masa lalu ini tentu sangat berdampak sitemik, karena tidak jarang seorang guru baru yang mencoba mempertahankan idealisme “mendidik tanpa menghukum” justru mendapat isolasi dari guru lain.

2. Tidak tertancapnya tujuan pengembangan siswa

Guru yang memilki tujuan “lebih” untuk siswanya, akan memiliki motivasi yang “lebih” juga dalam mendidik siswa, termasuk mencegah dirinya dari menghukum siswa dengan cara-cara yang mungkin cenderung membuat siswa “sakit”.

3. Keterbatasan guru pada ilmu psikologi perkembangan anak

Guru yang memiliki pengetahuan psikologi perkembangan siswa tentu akan berfikir sekian kali untuk memberikan perlakuan negatif, karena ilmu itu berbanding lurus dengan perilaku

4. Minimnya kreativitas pendekatan guru

Guru yang kreatif akan memiliki beragam cara untuk membuat siswanya belajar dengan baik tanpa harus cepat-cepat memberikan hukuman, di samping itu, guru juga bisa mnegembangkan improvisasi teknik mengajarnya sehingga siswa bisa lebih belajar dengan tertib

5. Sistem Sekolah

Sekolah yang hanya menerapkan prinsip “kejar setoran” sehingga memuat sebanyak-banyaknya siswa tanpa memperhatikan rasionya dengan jumlah guru yang ada, hanya akan menghasilkan suasana sekolah atau kelas yang gaduh. Hal ini bisa ‘Memaksa” guru yang harus mengasuh sekian banyak siswa menggunakan pendekatan yang dianggap paling mudah yaitu menghukum.

PELAJARAN BERHARGA DARI SEJARAH HIJRAH

Hijrah bukanlah suatu peristiwa biasa, tetapi memiliki dampak yang mendalam bagi perjalanan sejarah. Hijrah juga memepunyai arti besar dan pelajaran mendalam bagi sejarah Islam. Peristiwa hijrah yang datang dan diperingati setiap tahun, bukan sekedar seremonial belaka, namun lebih dari itu, datangnya tahun baru hijriah ini untuk memperbaharui hidup kita.

Peristiwa sejarah yang penting dalam sejarah Islam kembali datang tahun ini yaitu peristiwa perjalanan hijrah Rasulullah saw bersama sahabat beliau Abu Bakar Ash-Shidiq ra, yang sebelumnya telah didahului oleh para sahabat yang melakukan hijrah meninggalkan kota Makkah menuju kota Madinah Al-Munawwarah.

Di antara beberapa pelajaran penting dari peristiwa hijrah ini adalah :

1. Hijrah mengajarkan kaum Muslimin untuk mempertahanakan tauhid dan keimanan mereka dengan mengorbankan apa yang mereka miliki dari harta, keluarga, bahkan nyawa

Ketika para sahabat ra berhijrah dari kota Makkah ke kota Madinah, mereka dilarang untuk membawa harta mereka, banyak pula dari mereka yang harus berpisah dengan keluarganya dan bahkan tidak sedikit di antra a mereka yang harus mempertaruhkan nyawa mereka demi menyelamtkan tauhid dan aqidah mereka. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa keimanan adalah lebih mahal dan berharga dari apapaun.

2. Hijrah membangun masyarakat yang penuh peradaban

Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, pertama kali yang dialkukannnya adalah membangun masjid. Masjid dijadikan sebagai pusat kegiatan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia sehingga melahirkan manusia-manusia yang luar biasa, berakhlaq mulia, berilmu dan dekat dengan penciptanya.

setelah membangun masjid, Rasulullah saw kemudian mempersaudarakan antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin sehingga terbangun ukhuwah islamiyah, melahirkan komunitas yang solid dan persaudaraan yang kokoh dalam bimbingan Rasulullah saw. Rasulullah saw juga membangun pasar untuk kaum muslimin, karena pada saat itu pasar di Madinah masih dikuasai oleh orang-orang yahudi yang dapat menentukan harga sesuai keinginan mereka.

3. Hijrah merupakan momentum awal untuk kemenangan Islam dan Muslimin.

Melalui proses hijrah, nabi saw melakukan konsolidasi untuk membangun masyarat Islam yang berkeadilan, maka jika masyarakat menginginkan keadilan sesungguhnya, maka satu-satnya solusi adalah menerapkan konsep keadilan Islam.

Maka syari’at hijrah sama persis dengan syari’at-syari’at Allah lainnya, yaitu tetap berlaku sepanjang zaman. selama masih ada denyut kehidupan manusia, selama itu pula syari’at hijrah harus ada. Hala ini mengandung makna bahwa kita harus senantiasa untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita, yaitu dengan senantiasa menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.

Semoga mengawali tahun hijriah 1436 H ini, kita dapat merancang hari-hari kita ke depan lebih baik lagi. Tak pernah khawatir mengorbankan apa yang kita miliki untuk Allah, membela agama-Nya dan meneladani generasi awal dalam perjuangan mereka bersama Rasulullah saw menjalankan syari’at Allah dengan penuh keta’atan. Aamiin ya Rabbal ‘alaamiin.

 

TAHAPAN PENCIPTAAN MANUSIA DAN AMALAN TERAKHIRNYA

me n my wife“Diriwayatkan dari Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepada kami, sedang beliau adalah orang yang jujur dan dapat dipercaya:’Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan ciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari berupa nutfah, lalu menjadi ‘alaqah selama 40 hari pula, lantas menjadi mudghah dalam waktu yang sama pula. Kemudian Allah mengirimkan malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya, dan ia diperintahkan agar menulis 4 ketetapan, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya, dan kesengsaraan atau kebahagiannya. Dan demi Allah, Dzat yang tiada tuhan kecuali Dia, sesungguhnya di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga tidak lebih dari sehasta, lalu kitab suratan takdir mendahuluinya, sehingga orang tersebut beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli neraka sehingga jarak antara dia dan neraka tidak lebih dari sehasta, lalu suratan takdir mendahuluinya sehingga orang tersebut beramal dengan amalan ahli surga, maka ia pun masuk surga’ (H.R Bukhari-Muslim)

URGENSI HADITS

Hadits ini sangat agung, memuat kondisi manusia mulai dari awal penciptaannya, kehidupannya di dunia hingga kondisinya yang terakhir di negeri keabadian akhirat, baik di kampung kebahagiaan (surga) maupun di kampung penderitaan (neraka), semuanya berjalan sesuai ketentuan Allah swt.

PELAJARAN YANG BISA DIPETIK DARI HADITS

1. Tahapan perkembangan janin dalam rahim

Hadits ini menjelaskan bahwa selama 120 hari janin mengalami 3 kali perubahan, perubahan-perubahan tersebut terjadi selama 40 hari. 40 hari pertama janin masih berbentuk nuthfah (percampuran antara sperma dan sel telur wanita), 40 hari berikutnya berbentuk ‘alaqah (gumpalan darah), dan 40 hari berikutnya berbentuk mudghah (gumpalan daging). setelah 120 hari, malaikat kemudian meniupkan ruh kedalamnya dan pada saat itulah ditetapkan bagi janin tersebut beberapa ketetapan. Berbagai perubahan janin ini juga diisyaratkan Allah dalam surat Al-Hajj:5 dan surat Al-Mukminun:12-14.

Dalam ayat tersebut Allah swt menyebutkan 3 tahapan lainnya dari 4 tahap penciptaan manuisa yang sudah disebutkan dalam hadits di atas, sehingga menjadi 7 tahapan. karena itulah Ibnu ‘Abbas ra berkata:”Anak Adam diciptakan dari 7 tahapan.” kemudian ia membaca ayat di atas.

2. Peniupan Ruh

Para ulama sepakat bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin tersebut telah berumur 120 hari dihitung mulai dari bertemunya sel sperma dan ovum. Artinya peniupan tersebut terjadi ketika janin berumur 4 bulan penuh dan masuk bulan ke-5. Pada masa inilah segala hukum mulai berlaku padanya. Oleh karena itu wanita yang ditinggal mati suaminya menjalani masa ‘iddah selama 4 bulan 10 hari, yaitu untuk memastikan bahwa ia tidak hamil (dari suaminya yang meninggal) hingga tidak menimbulkan keraguan ketika ia menikah lagi dan kemudian hamil (apakah anak dari suami yang meninggal atau suami barunya).

3. Larangan aborsi

Para ulama sepakat perihal haramnya aborsi setelah ruh ditiupkan ke dalam janin. Bahkan mereka menganggap bahwa aborsi adalah tindak pidana yang tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim, karena itu, jika dalam melakukan aborsi janin keluar dalam keadaan hidup dan kemudian mati, maka dikenakan hukuman dan denda (diyat), sedangkan jika janin keluar dalam keadaan mati maka denda materinya lebih ringan. Hukum ini juga berlaku bagi pengguguran yang dilakukan ketika janin belum ditiupkan ruh kedalamnya, karena penciptaan manusia pada dasarnya dimulai sejak sperma membuahi sel telur (ovum).

4. Allah mengetahui apa yang akan terjadi pada manusia

Sesungguhnya Allah mengetahui kondisi manusia sebelum mereka diciptakan. tidaklah sesuatu yang berhubungan dengan manusia, mulai dari keimanan, keta’atan, kekufuran, kemaksiatan, kebahagiaan maupun kesengsaraan, melainkan atas pengetahuan dan kehendak Allah swt.

5. Segala perbuatan ditentukan oleh penutupnya

Imam Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sad dari Rasulullah saw yang bersabda:’Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan oleh penutupnya.”

Artinya, barangsiapa yang ditetapkan Allah beriman di akhir hayatnya, maka meski sebelumnya dia kufur dan selalu melakukan maksiat, menjelang kematiannya ia akan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman yang karenanya menghantarkan dirinya masuk surga, begitu pula sebaliknya.

Oleh karena itu nabi saw sering melafalkan do’a ” Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati saya dalam agama-Mu.”

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mendapatkan akhir yang baik dalam kehidupan kita (husnul khatimah) aamiin yaa mujiibas saailiin.

 

URGENSI NIAT DALAM SETIAP AMAL

“Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab. ra. ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan. barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ditujunya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dihijrahkannya” (H.R Bukhari-Muslim)

Asbabul Wurud (Latar belakang lahirnya Hadits)

diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir-nya ia berkata : di antara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita yang dipanggil dengan nama Ummu Qais, namun wanita itu menolaknya kecuali jika laki-laki itu ikut berhijrah ke Madinah. kemudian laki-laki itu ikut hijrah, lalu menikahi wanita tersebut. Maka kamipun memberinya julukan Muhajiru Ummi Qais (orang yang berhijrah karena Ummu Qais).

Urgensi Hadits

Hadits ini adalah hadits yang sangat penting dan menjadi prinsip dasar agama. Abu Daud berkata :”hadits ini adalah setengah dari agama Islam, karena agama Islam pada dasarnya bertumpu pada dua hal, yaitu zhahir atau amal, dan bathin atau niat. Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berkata :”Sepertiga ilmu masuk ke dalam hadits ini karena perbuatan manusia meliputi tiga hal, yaitu hatinya, lisannya, dan anggota badannya. Sedangkan niat dalam hati merupakan salah satu dari ketiga hal tersebut.

Sedemikian pentingnya hadits ini sehingga banyak ulama yang mengawali berbagai buku dan karangannya dengan hadits tersebut. Imam Bukhari misalnya menempatkan hadits ini di awal kitab Shahih-nya. Bahkan Imam Nawawi meletakkan hadits tersebut pada urutan pertama dalam tiga bukunya, yaitu kitab Riyaadhush Shaalihiin, al-Adzkaar, dan Arba’iin Nawawi. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang yang menuntut ilmu menyadari pentingnya niat, sehingga ia terdorong untuk meluruskan niatnya hanya karena Allah, baik ketika menuntut ilmu maupun ketika melakukan berbagai amal kebajikan lainnya. Wallahu ‘alam bish shawab.

MENGHILANGKAN PENGALAMAN BURUK DENGAN TEKNIK DISTORSI

Foto(561)

Kita mungkin pernah mengalami pengalaman buruk yang membuat kita menjadi tidak punya semangat untuk meraih suatu prestasi dan selalu mengganggu kita ketika mengingatnya. pengalaman buruk tersebut bisa terjadi di sekolah, di tempat kerja, maupun di lingkungan tempat kita bergaul. di sekolah, misalnya kita pernah punya pengalaman buruk ketika dimarahi dan dihukum oleh guru, atau ditertawakan teman-teman karena mendapatkan nilai yang jelek ketika yang lain mendapatkan nilai yang memuaskan. di tempat kerja mungkin kita pernah dimarahi oleh atasan dll.

berikut ini adalah langkah-langkah menghilangkan pengalaman buruk dengan teknik distorsi :

a. ingat kembali pengalaman buruk yang sangat mengganggu kita tersebut

b. tutup mata dan mainkan pengalaman buruk itu seperti sebuah film hingga selesai.

c. setelah selesai, mainkan film  tersebut secara terbalik dengan kecepatan tiga kali kecepatan normal. dengan demikian, akan terlihat segala sesuatunya berjalan mundur dengan cepat. bayangkan orang yang membuat anda mengalami pengalaman buruk tersebut mempunyai telinga yang lebar seperti Mike Mouse dan hidung lebih panjang dari Pinokio

d. ketika film sampai awal lagi, mainkan film dengan kecepatan tiga kali kecepatan normal sehingga gambar dan suaranya bergerak dengan sangat cepat

e. ulangi 5-8 kali film maju mundur dengan kecepatan tiga kali kecepatan normal.

f. ujilah. pikirkan lagi pengalaman buruk tersebut. apa yang tejkadi? biasanya orang akan tertawa ketika  mengingat pengalaman buruk tersebut dan timbul lagi keyakinannya.

CARA MEMILIKI KEYAKINAN YANG MEMBERDAYAKAN

100_8732

Keyakinan adalah prinsip dalam hati yang akan menggerakkan orang biasamelakukan hal-hal yang luar biasa atau sebaliknya orang yang berbakat melakukan hal-hal biasa atau gagal melakukan yang terbaik.

Ketika kita yakin dapat melakukan sesuatu, otak diperintahkan untuk mencari cara kemungkinan memperoleh hasil. sebaliknya ketika kita tidak yakin dapat melakukan sesuatu, otak memberikan perintah untuk menutup semua kemampuan mewujudkannya,otak akan menutup segala kemungkinan.

berikut ini tips untuk memiliki keyakinan yang memberdayakan sebagai modal untuk mencapai apa yang kita inginkan :

1. secara sadar mengubah keyakinan yang membatasi (pengalaman hidup negatif) menjadi keyakinan yang memberdayakan dengan membingkai ulang (reframing)

contoh mengubah keyakinan yang membatasi menjadi keyakinan yang memberdayakan :

keyakinan yang membatasi :

SAYA TIDAK BERBAKAT MENJADI JUARA

kita ubah menjadi :

JUARA BUKAN BAKAT, JUARA ITU HASIL BELAJAR KERAS DAN CERDAS. KALAU SAYA BELAJAR KERAS DAN CERDAS PASTI JADI JUARA

2. Hilangkan pengalaman buruk yang kuat yang menyebabkan ketidakyakinandengan teknik Dsitorsi. (akan dibahas dalam tulisan tersendiri)

3. Mantapkan keyakinan dengan membuat jangkar/anchor pengalaman berprestasi (juga akan dibahas dalam tulisan tersendiri)

4. Ciptakan dalam pikiran kita, apa yang kita yakini dapat  dicapai di masa depan seolah-olah sudah terjadi sekarang dengan visualisai kreatif

ketika kita menginginkan sesuatu dan kita yakin dapat mencapainya, maka visualisaikanlah target-target tersebut sedetil-detilnya seolah-olah kita sedang mengalaminya saat ini

5. Jika kita meyakini dapat mencapai apa yang kita inginkan, datangilah. kita akan semakin yakin dapat mencapainya.

Misalnya kita ingin bekerja di sebuah instansi/kantor,maka datangilah tempat tersebut, lihatlah semua yang perlu kita lihat dari tempat tersebut

6. Bila kita mencoba meyakini sesuatu dan tidak ada bukti pendukung, lakukan tindakan dan tiba-tiba keajaiban datang

7. Lakukan afirmasi

misalnya : Setiap hari tambah sehat, tambah pintar, tambah kaya

semakin sering aku berlatih soal, aku semakin mahir matematika. dll

ucapkan afirmasi yang kita buat dengan penuh emosional disertai gerakan tertentu, setiap hari menjelang berangkat sekolah/kerja.

8. Pajang/tempel oprestasi-prestasi yang pernah kita raih sebelumnya. juga slogan/kata-kata mutiara pemacu semangat

9. Tulis kisah sukses

10. Tonton/baca biografi atau kisah orang-orang sukses

11. Gunakan 80% waktu bersama orang-orang sukses penuh semangat, 20% bersama orang lainnya.

( dikutip dari buku Smart Learning Technology, karya Setiyo Widodo)